KBB Berduka, Tanah Longsor Akibat Alih Fungsi Lahan Telan Puluhan Korban

Bagikan ke :

KBB, WIP — Kabupaten Bandung Barat (KBB) berduka atas musibah tanah longsor yang terjadi akibat curah hujan tinggi disertai alih fungsi lahan dan tata kelola ruang yang tidak efektif. Bencana tersebut terjadi di dua titik, yakni Kecamatan Lembang dan Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu (24/01/2026) dini hari.

Salah satu lokasi terdampak terparah berada di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Longsor yang terjadi sekitar pukul 03.00 WIB tersebut menghantam puluhan rumah warga, menimbulkan korban jiwa, luka-luka, serta menyebabkan sebagian warga hingga kini masih dalam pencarian.

Proses evakuasi dan pencarian korban dilakukan oleh tim SAR gabungan, yang terdiri dari relawan, BPBD, TNI, Polri (Polsek Cibabat), serta elemen masyarakat. Para korban selamat sementara waktu diungsikan di Kantor Desa Pasirlangu.

Musibah ini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, meninjau langsung lokasi kejadian didampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, beserta rombongan pejabat lainnya. Wapres menegaskan bahwa prioritas utama adalah pencarian dan penyelamatan korban yang masih tertimbun material longsor.

Menko PMK Pratikno menyampaikan bahwa negara hadir secara penuh dalam penanganan bencana ini. Hingga Minggu (25/01/2026), data sementara menunjukkan 83 orang masih dinyatakan hilang dan diduga kuat tertimbun material longsor. Sementara itu, 25 kantong jenazah telah berhasil dievakuasi oleh tim SAR.

“Operasi SAR dilakukan 24 jam non-stop, mengingat masih banyak korban yang belum ditemukan. Keselamatan jiwa menjadi prioritas utama,” tegas Pratikno di lokasi kejadian.

Keterangan dari warga selamat menyebutkan bahwa longsor terjadi sangat cepat tanpa tanda-tanda sebelumnya. Warga hanya mendengar suara gemuruh keras sebelum material tanah dan batu menghantam permukiman.

Berdasarkan data sementara, tercatat 30 unit rumah rata dengan tanah, serta puluhan hektare lahan perkebunan terdampak. Jumlah korban meninggal dunia yang berhasil ditemukan hingga saat ini sebanyak 25 orang.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti alih fungsi lahan di kawasan kaki Gunung Burangrang sebagai faktor utama terjadinya longsor. Menurutnya, kawasan tersebut seharusnya ditanami vegetasi lebat dengan akar kuat untuk menahan pergerakan tanah.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen melakukan penataan ulang wilayah rawan bencana, termasuk mengembalikan lahan-lahan kritis ke fungsi awalnya,” ujar Dedi.

Selain fokus pada evakuasi, Pemprov Jabar juga menyiapkan bantuan sebesar Rp25 juta per kepala keluarga bagi keluarga korban meninggal dunia. Seluruh rumah warga yang hancur dipastikan akan direlokasi ke lokasi yang lebih aman.

Sementara itu, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyatakan bahwa longsor terjadi pada dini hari dan diawali suara gemuruh yang terdengar oleh warga. Lokasi terdampak meliputi Kampung Pasir Kuda dan Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 30 unit rumah rusak, lahan perkebunan sayuran terdampak, serta 113 jiwa dari 34 kepala keluarga terdampak bencana. Hingga kini, tim SAR gabungan dibagi ke beberapa sektor untuk mempercepat pencarian korban yang belum ditemukan.

(Miswanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *